• Daftar Isi

  • Archives

  • Blog Stats

    • 2,181 hits
  • Recent Comments

    marghono on M. Machsusul Izzi
    ja`faraltemasy on Moh. Ali Fathomi
    as_nya on Siapa Iktafa?

KEJAYAAN ISLAM ADA DI TANGAN JURNALIS

Dulu zaman kakek buyut masih muda, seorang peramal amatir mengatakan: “Besok, ketika manusia semakin maju dengan teknologi, akan banyak suara tanpa wujud aslinya”. Ucapan peramal itu terwujud, ketika menjelang kemerdekaan RI para petinggi Negara menggunakan Radio sebagai sumber informasi. Dan kemudian di optimalkan kembali, suara tanpa rupa (baca: radio) menjadi bagian penting kemerdekaan RI atas jasanya menyebarkan berita proklamasi.
Mungkin karena ajaibnya prediksi peramal itu, hingga sekarang suara tanpa rupa (baca: Radio) telah dikembangkan menjadi televisi yang menampakkan suara sekaligus menggandakan wujudnya (baca: Rupa) di segala tempat.
Nah, nampaknya menarik jika Radio dan Televisi menjadi pengait akan kajian jurnalistik kali ini, karena keduanya merupakan media penyebar informasi. Kira-kira seperti seperti apa sejarah jurnalistik itu?

Cikal Bakal Surat Kabar
Nampaknya Yunani masih juga tak terbantahkan dalam hal sejarah jurnalistik. Kegiatan jurnalistik di Yunani bisa di search pada peradaban Romawi-Yunani kuno, dimana cikal bakal surat kabar pernah diterbitkan. Surat kabar pertama itu bernama “Acta Diurna”, dimana segala bentuk berita dan pengumuman Negara di temple di pusat kota yang kala itu disebut “Forum Romanum”. Sebuah keterangan lain menyebutkan, surat kabar semacam Acta Diurna telah dahulu dikembangkan pada zaman peradaban Sumeria-Babilonia di lembah sungao Tigris dan Eufrat (Irak-Iran).
Kegiatan tulis-menulis menjadi begitu populer, setelah peradaban Mesir menemukan teknik pembuatan kertas dari serat tumbuhan Phapyrus. Oleh karena itulah, masyarakat inggris menyebutnya Paper. Pada peradaban selanjutnya, Cina, India dan Arab berperan sangat penting dalam tulis-menulis dan penyebaran informasi. Tak hanya itu, para penguasa Asia itu juga telah berhasil menjadikan budaya baca-tulis menjadi begitu digemari, sehingga peradabannya dapat berkembang sedemikian majunya. Hingga pada suatu saat, muncullah nama Guttenberg penemu mesin cetak. Sejak saat itulah dunia baca-tulis serta jurnalisme maju sangat pesat.

Jurnalistik Tetap Nomor Satu
Dengan semakin majunya teknologi, eksistensi Surat Kabar dalam menyampaikan berita mulai di acuhkan oleh sebagian kalangan. Terlebih, setelah layanan internet makin menjamur dengan dibukanya Warnet-warnet pinggiran jalan dan fitur akses internet dalam handphone.
Tapi tunggu dulu, jangan patah sebelah karena persoalan ini. Persoalan ini telah membuat peran Surat Kabar menjadi nomor satu, karena kunci utama surat kabar, yaitu jurnalistik, telah menjadi formula wajib bagi penyebar berita rival Surat Kabar. Sebuah situs penyaji informasi tak akan layak dikaji jika tanpa menggunakan jurnalistik.
Walaupun sedemikian majunya teknologi informasi dan telekomunikasi, tetap saja belum bisa menggantikan sepenuhnya fungsi media cetak, berupa buku, jurnal-jurnal dan media massa cetak lainnya, dari segi kepraktisannya, efektivitas dan kemurahan harganya. Dr. Jalaluddin Rakhmat M. Sc. mengatakan: “Buku adalah storage system (memori penyimpanan) yang menyimpan memori hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Karena itu buku bukan saja memungkinkan akumulasi pengetahuan-pengetahuan baru, tetapi juga memudahkan pengembangan pengetahuan baru”. Hampir tak dapat dibayangkan akan dapat terjadi pengembangan ilmu pengetahuan tanpa tersedianya sumber informasi yang paling murah, praktis dan mudah, seperti buku-buku.

Kemajuan Jurnalistik di Tangan Islam
Umat Islam pernah Berjaya memimpin peradaban dunia. Ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya maju pesat ditangan bangsa Arab dan Persia Muslim.
Sejarah Islam mencatat dengan tinta emas, betapa keberadaan sebuah lembaga perpustakaan dan observatorium, didukung penuh oleh para sultan, para ulama dan seluruh masyarakat umat islam. Bait Al Hikam adalah salah satu lembaga perpustakaan yang hidup dan progresif pada zaman kekhalifahan Islam bani Abbasiyah Al Makmun, di Baghdad, Irak, abad XV.
Kemajuan tulis menulis dalam Islam hanya berlandaskan semanagat juang mengebadikan ilmu dan pengetahuan, serta di dukung oleh Al Quran, wahyu dari Allah yang merupakan karya tulis abadi sepanjang zaman.

Yahudi Menguasai Media Dunia
Visi dan Misi Zionisme yang tercantum dalam Protokoat Yahudi (semacam peraturan) sejak abad ke-18 M tersebut di atas terwujud dalam kenyataannya hingga kini. Kantor berita terbesar di dunia adalah REUTERS. Kantor berita ini didirikan oleh Julius Reuter –seorang Yahudi tulen- pada tahun 1816.
Di Inggris, The Times adalah majalah terbesar di Inggris. Terbit sejak 1788, diprakarsai oleh Rothschild –warga Yahudi Inggris- dan ditopang investasi besar-besaran dari komunitas Yahudi di Inggris. Sekarang majalah ini dikuasai oleh Rupert Murdoch –konglomerat media massa berdarah Yahudi Australi.
Tak hanya media cetak, industry pertelevisian dan perfileman pun mereka kuasai. Yahudi menguasai industry film di AS dan memiliki perusahaan-perusahaan Film terbesar seperti: Fox Co (William Fox), Golden Co. (Samuel Golden), Warner & Bross Co. (Harny Warner) dan lainnya. Di sector pertelevisian, Yahudi menguasai jaringan televise internasional seperti: ABC, CBS, dan NBS, CNN.
Bagaimana dengan di Indonesia?, Lobby Yahudi di Indonesia antara lain berwujud LSM/organisasi LIONS CLUB, ROTARY CLUB yang merekrut keanggotanya dari berbagai kalangan elit.

Rame-rame ‘Bunuh’ Yahudi
Bukan tak mungkin, jika suatu saat kendali informasi dan teknologi kembali di kuasai oleh Islam. Kemampuan budaya membaca dan menulis serta menguasai khazanah informasi, sangatlah penting dan strategis. Keterampilan jurnalistik yang mensyaratkan kemampuan komunikasi baik lisan maupun tulisan dan penguasaan teknologi informasi (seperti computer) adalah senjata mutakhir yang selankutnya akan di prakarsai oleh pihak santri. Maka, dalam rangka menyambut kembalinya tahta kejayaan Islam, mari mengutip syair milik Bung Haji Rhoma Irama: “…yang muda, yang punya gaya. Ayo.., sing-singkan lengan bajhu, kalo kita mau majhu…”.

Oleh : Shofa Ulul Azmi

Sumber: Jurnalistik Islami, karya Ahmad Y. Samantho

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.