Puisi !! mungkin sudah tidak asing bagi kita, sebuah karya tulis yang lebih menonjolkan bahasa keindahan dan juga perasaan yang mendalam, mungkin itu definisi sederhana yang selalu kita tangkap darinya.
Padahal pendapat itu hanyalah sepersekian persen yang di benarkan oleh para pujangga. karena itu, sampai sekarang jarang kita temukan tentang definisi puisi yang pas, karena ia termasuk salah satu jenis tulisan yang lebih mengental unsur nuansa sastranya. Tapi bukan itu yang langsung kita vonis puisi itu jenis karya yang sulit. Bukan, karena bukan itu yang kita inginkan. Toh banyak juga puisi yang bahasanya mudah untuk di faham dan juga simpel dalam penyusunan.
Dan kali ini kita akan mempelajari dasar-dasar kepenulisan puisi tentunya dengan metode dan juga teori yang sederhana. Karena puisi sendiri bukanlah sebuah tulisan yang serius tapi ungkapan perasaan yang peka akan hal-hal di sekitarnya.
Memulai menulis
Dalam kepenulisan puisi yang kita butuhkan adalah kemauan untuk menuangkan perasaan kedalam tulisan dan juga banyak membaca puisi. Karena Seorang yang ingin menjadi penyair besar itu harus haus dan juga rakus dalam membaca puisi. Contoh saja seperti Khairil Anwar, sastrawan Indonesia Angkatan 1945.
Tapi lain dari itu, kita juga membutuhkan yang namanya konsep, falsafah atau juga yang biasa di sebut kredo. Hal ini di perlukan untuk agar puisi yang kita tulis itu bisa terarah dan tidak awut-awutan dalam menulisnya. Namun dalam hal konsep, kita bisa membuat batasan-batasan puisi kita baik dalam penyulingan kata atau dalam hal tata kebahasaan dan juga model tumpahan rasa yang akan kita sajikan. Tapi kadang metode itu terkadang malah membuat kuita terikat, jadi kita juga boleh meninggalkan rumusan-rumusan itu untuk membebaskan berfikir kita dalam memulai kepenulisan. Karena puisi itu sediri bisa kita umpamakan seseorang yang ada dalam proses pembuahan ide-ide, kehamilan dan lalu melahirkan puisi.
Tentang Ide atau Ilham
Adapun langkah yang kedua dalam penulisan adalah ide atau kadang para ahli penyair atau juga sastrawan biasa di sebut ilham atau juga inspirasi. Ide adalah pokok dalam sebuah tulisan setelah keinginan menulis yang menjadi pokok utama dalam seorang diri penulis. Karena ide itu sendiri bisa di sebut sari pati atau juga kepala bila kita mengumpamakan tulisan adalah tubuh. Walau terkadang inspirasi itu di dapat dengan sepontanitas yang ia tak bisa di gambarkan bagaimana mendapatkannya seperti pendapat seorang pujangga polandia yang pernah meraih nobel sastra wislawa szymborska (1996), bahwa isnpirasi itu datang dari ketidaktahuan yang terus menerus di ulang, atau dengan kata lain dari keingin tahuan. Begitu juga yang dialami newton yang menemukan gaya grafitasi saat bertanya pada apel jatuh.
Jadi bukan sulit dalam menulis puisi bila kita ingin. Apalagi bila keinginan itu didukung juga dengan ide-ide cemerlang yang entah dari mana kita mendapatkannya.
Orang puitis adalah orang yang selalu jatuh cintah dan selalu marah
Memang kedengarannya aneh. Tapi tak salah bila ini ku beberkan secara santai. Memang dalam menulis puisi yang notabenenya adalah isi hati, jadi tidak salah bila ku sebuatkan kalau orang yang penyair adalah orang yang selalu marah dan orang yang selalu jatuh cinta.
Anda boleh protes memang tentang ungkapan ini. Tapi bila kita menelisik lebih lanjut seperti salah satu temanku yang pernah bercerita kalau dia bisa menulis puisi saat daia marah dan yang sudah biasa jaga bahwa orang yang jatuh cinta akan dengan mudah mengolah perasaannya dengan kata-kata yang indah. Dari kedua kejadian itu bisa disimpulkan puitis itu ada pada diri pemarah dan pecinta. Dan ini mungkin membuat kamu timbul pertanyaan juga. Apa yang menjadikan pemarah sama dengan pecinta?
Seseorang penyair adalah orang biasa yang di tuntut untuk melatih kepekaan dirinya akan lingkungan dan menuangkannya dalam kata-kata. Sedangkan dua sifat tersebut (marah dan jatuh cinta) ada persamaan yaitu keduanya itu ada kepekaan dalam perasaan yang menggumpal dan perlu untuk di ledakkan. Dan puisi yang di butuhkan juga itu. Sebuah perasaan tertekan yang ingin ia keluarkan dengan lekas-lekas.
Dan ngomong dalam hal perasaan nih kita juga bisa mengembangkan inspirasi kita dalam bentuk peristiwa yang kita alami. Tentang lapar, haus, atau apa saja yang menurut kita semua adalah peristiwa. Tidak harus menakjubkan, karena yang puisi hanyalah sebuah sebuah teori kecil dan juga sebuah rumusan indah dalam suatu hal.
Tentang kalimat
Dalam hal ini memang agak selektif, Atau mungkin bisa dikatakan mudah dan juga susah. Yah gimana ya kadang memang banyak penyair yang menggunakan bahasa berbelit-belit utamanya penyair yang hidup pada kurun 40-an kira-kira sebelum Khairil Anwar menjadi sang pujangganya indonesia.
Dikatakan rumit, itu juga bisa karena puisi bukanlah kalimat yang ada dalam pengumuman atau poster-poeter dan juga selembaran yang semuanya itu butuh dengan kalimat yang mudah dimengerti. Dan siapapun yang membaca harus mempunyai pengertian yang sama.karena kalau tidak maka malah bisa-bisa di cela dan termasuk sebuah pengumuman yang tidak baik. Dan sebaliknya, puisi yang baik adalah satu kata yang dapat memberikan orang-orang menggunakan pengertian yang berbeda, satu kata yang jadikan orang berontak, dan satu kata yang jadikan setiap orang dapat mema’nai dengan ma’na yang berbeda-beda. Dan puisi adalag wujud kata yang membuat orang yang membaca tertarik, menikmati dan juga hanyaut dalam kandungannya. Tapi jangan egois dengan membuat kata-katanya yang rumit dan seolah hanya ingin di ketahui sendiri, tapi jadikan puisi itu sederhana tapi membawa orang untuk berfikir dalam ma’na-ma’nanya.
Indah, itulah yang ada dalam puisi, tapi indah itu jangan dima’nai tunggal bahwa puisi itu indah akan kata rumit. Tapi ma’nailah indah dengan tutur bahasa dan katanya yang runtut seolah berirama. Karena penyair yang membuat puisi juga harus selektif dalam menyuling kata. Tapi penyair juga sebagai pesulap yang dapat merubah segelas lumpur dan memberinya ma’na-ma’na.
Contoh saja puisi Khairil Anwar :
AKU
Kalau sampai waktuku
‘ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
……..
Dari beberapa baris puisi di atas dalam kata-katanya Khairil Anwar tidaklah menggunakan bahasa yang rumit. Hanya dengan susunan kau, aku, tak, seorang, waktu dan kata-kata yang sebenarnya kiita gunakan sehari-hari dan yah seperti itulah penyair yang bagus. Bukan membuat orang malas meni’mati puisinya karena kata rumit. Tapi ia mau meni’mati karena indahnya.
Rima
Ini mungkin hanya sebuah tatanan yang terakhir dalam pengolahan pembuatan puisi. Rima adalah bunyi yang di ulang-ulang yang dapat memberikan suatu penilaian bahwa kata itu bisa hidup. Dan Rima juga biasa di sebut irama.
Dalam konteks ini sang penyair di tuntut untuk membuat sekenario nada dalam pemilahan kata agar puisi itu bila di baca menimbulkan suatu yang pas seperti nadzam yang harus membutuhkan bahar atau wazan.
Tapi dalam Rima ini kita dibebaskan dalam membuatnya baik huruf akhiran maupun panjang pendeknya. Karena dalam rumusan-rumusan ini kita lebih menjadikan puisi yang tidak memakai model lama yang harus A-B A-B atau A-A A-A yang terkadang di gunakan oleh rumusan sajak.
Berpuisilah
Jadi mudah membuat puisi, mudah menjadi seorang penyair. Bukan rumit, tapi sederhana. Dan lagi puisi itu juga sebuah orasi yang dapat membuat berkobar dalam hati untuk menarik masa. Dan puisi juga sebuah tadabbur binni’mah akan kebesaran Allah. Jadi berpuisilah …
Oleh : Amiruddin Ma’ruf
Sumber : “Menapak ke Puncak Sajak” karya Hasan Aspahani dan “Pengkajian Puisi” karya Rahmad Djoko Pradopo.
Filed under: Teras Jurnalis Tagged: | keindahan yang tak perlu diperumit, puisi, rima